Rabu, 26 Desember 2012

Jane Eyre-Read To Finish

Akhirnya selesai juga setelah sekian lama 'mencicil' membaca e-book (atau lebih tepatnya Videobook) Jane Eyre. Perlu waktu lama untuk menyelesaikannya karena saya hanya punya waktu di malam hari menjelang tidur. Mumpung ada libur Natal selama beberapa hari (dari tanggal 24), dan saya punya waktu untuk menyelesaikan tiga bab terakhir.



Mungkin ada yang bertanya mengapa saya begitu tergila-gila membaca sebuah karya sastra klasik?

Pertama, seingatku selama belajar bahasa Inggris di sekolah dari SMP hingga kuliah, belum pernah sekalipun membaca sebuah karya sastra klasik. Mungkin alasannya tidak lagi populer, atau tidak ada urusannya dengan kita di Indonesia, atau tidak ada akses gratis untuk mendapatkanya dalam bentuk e-book (kalau versi cetak berarti harus beli pakai uang kan!).

Harap maklum internet belum lama merakyat di Indonesia, di Luwuk saja baru tahun 2007 itupun masih pakai colokan kabel telepon.

Kedua, baru pertama kali ini saya membaca sebuah karya sastra klasik yang ditulis lebih 100 tahun lalu , dengan gaya bahasa dan kosa kata yang (terus terang) susah dipahami, tetapi untung saya ditemani kamus elektronik. Bayangkan nikmatnya memakai kamus elektronik dibandingkan kalau masih harus bolak-balik lembaran kamus yang tebalnya lebih10cm. 

Setiap kali menemukan kosa kata asing, saya harus berhenti sejenak dan mencari arti kata itu sebelum melanjutkannya lagi. Ada sebagian kata yang saya temukan diberi keterangan Archaic yang berarti old use, atau sudah tidak digunakan lagi. Walah... walah...! Pantesan saja saya jadi seperti orang bloon yang baru belajar bahasa Inggris. Kasiaaan.... deh gue!

Saya tidak berani lagi berkata dan mengaku pada orang lain bahwa saya bisa dan fasih berbahasa Inggris. Sejak bertemu Jane Eyre saya benar-benar mati kutu!!!

Sekedar catatan saya punya bebeapa koleksi novel berbahasa Inggris (saya anti terjemahan) seperti karya Danielle Steele, Joan Collins, dan tampaknya saya lebih mudah memahami novel mereka dibanding sebuah karya klasik. Mungkin karena ditulis pada era yang berbeda. Atau tergantung gaya masing-masing penulis?

Ketiga, saya menemukan miniseri Jane Eyre 1983 tidak selengkap versi novel (e-book). Antara lain; ketika Mr Rochester melamar Jane dengan segala detilnya yang ada di novel, kemudian bagaimana mereka melewati masa pacaran selama satu bulan sebelum menikah. Dan ketika Mr Rochester yang marah dan berkata " Away with your congratulation! Who need them. They are fifteen years too late!" karena tidak jadi menikah pada hari itu. 

Dan masih banyak lagi adegan yang tidak dibuat dalam mini seri itu. Dan sangat saya sayangkan karena pasti sangat bagus ketika diperankan. Tetapi saya juga tidak pungkiri bahwa adegan dalam novel tampak lebih hidup ketika diperankan oleh Zelah Clarke dan Timothy Dalton. Yey!!!

Jane_Eyre_miniseries_1983_compare_to_novel
Nonton miniseri  Jane Eyre dengan Samsung Tab.
Saya merasa karakter Jane sangat tepat diperankan Zelah Clarke karena sesuai yang digambarkan dalam novel; bertubuh kecil, pucat, dan berlesung pipi. Bahkan kostum yang dikenakan pun sesuai dengan gambaran Jane yang menyebut dirinya; I'm your plain Quakerish governess.

Keempat, relevansi novel ini dengan kehidupan modern kita di abad 21. Antara lain profesi Jane Eyre sebagai governess, serta tekatnya untuk hidup mandiri dan tidak bergantung kepada keluarganya. Mirip dengan kehidupan kita saat ini yang mengenal istilah wanita karir, tentu dengan arti yang berbeda pada jaman Charlotte Bronte hidup.

Sebuah pepatah lama yang masih berlaku hingga sekarang, ketika Mrs Fairfax berkata "Not all gold that glitters" yang meragukan niat Mr Rochester untuk menikahi Jane, dan memperingatkan Jane untuk waspada terhadap segala kemungkinan yang akan terjadi.

Seperti inilah yang harus dilakukan para wanita yang akan menikah untuk berhati-hati dan meneliti calon pasangannya dengan seksama. Atau calon mertua untuk meneliti latar belakang calon menantu sebelum menyetujui dan merestui sebuah pernikahan.

Seperti yang belakangan ini sering terdengar berita di media TV dan cetak tentang seorang Bupati yang menikahi seorang ABG berusia 18 tahun hanya selama 4 hari, dan menjadi headline di dalam negeri hingga mancanegara. WOW!

Karena beberapa relevansi lainnya yang saya temui akhirnya saya mengerti mengapa sebuah karya klasik seperti Jane Eyre bisa tetap populer dan diadaptasi berulang kali dalam bentuk film layar lebar, mini seri, teater, dan novel. Meski sebelumnya juga ada Jane Austen (1775-1817) yang lebih dulu dikenal sebagai penulis yang bergenre romantis, yang sebagian karyanya sudah diadaptasi dalam bentuk film layar lebar. Salah satunya adalah Bride and Prejudice, Emma, Sense and Sensibility, dsb.

Harap jangan disalahpahami bahwa saya mendukung atau menentang, apalagi menganggapnya sebagai sesuatu yang romantis tentang pernikahan usia beda jauh (UBJ), atau pernikahan antara majikan dan pekerjanya (dalam hal ini Jane Eyre bekerja sebagai guru pribadi di rumah Mr Rochester), dsb.

Ketika membaca novel ini bisa jadi anda tidak mengerti mengapa Jane tetap teguh pada prinsipnya. Mungkin anda akan mengutuk atau mungkin bersimpati pada Mr Rochester yang membuatnya memilih jalan menjadi bigamis. Semua tergantung seberapa luas wawasan, dan dari sudut mana kita mengambil kesimpulan.

Yang saya tekankan adalah marilah kita menggunakan kebjaksanaan ketika membaca novel ini, dan menggunakan akal sehat ketika di dunia nyata kita menghadapi yang saya sebut Too Good To Be True. Bagiku novel ini bukan sekedar kisah drama romantis. Tetapi yang pasti saya mengagumi karya Charlotte Bronte yang menurutku sangat original pada masanya.

Project berikutnya adalah mencari sastra klasik lain untuk membantuku menguasai bahasa Inggris ke level mahir. So wish me luck!!!