Jumat, 16 November 2012

Inspirasi Dari Jane Eyre

Posting hari ini adalah bentuk apresiasiku terhadap Charlotte Bronte dan novelnya Jane Eyre yang sangat populer di seluruh dunia. Novel ini sudah diterjemahkan dalam berbagai bahasa, dan diadaptasi berkali-kali dalam bentuk miniseri untuk televisi, film layar lebar, pertunjukkan teater, dll.

Sejak pertama kali diterbitkan di Inggris tahun 1847 sudah menimbulkan kontroversi tersendiri, antara lain dianggap bacaan yang tidak pantas karena mengutarakan sudut pandang dan pikiran wanita yang tidak lazim pada masa itu.

Terjadi kehebohan ketika kemudian diketahui bahwa ternyata penulisnya adalah seorang wanita, karena pada masa itu penulis wanita tidak mendapat tempat sebagaimana penulis pria di kalangan masyarakat Inggris. Karena menyadari hal ini sebelumnya Charlotte Bronte menggunakan nama samaran (pseudonym) Currier Bell ketika menerbitkan novel Jane Eyre.

Saya menjadi sedikit obsesif tentang Jane Eyre dan penulisnya Charlotte Bronte sejak menonton film layar lebar Jane Eyre versi 2011 di HBO beberapa waktu lalu. Sebelumnya saya tidak pernah menonton versi apapun dari Jane Eyre, hanya sebuah novel yang saya baca sejak beberapa tahun lalu.

Jane_Eyre_meets_Mr_Brocklehurst

Jane_Eyre_back_to_Thornfield_Hall_after_the_fire_calamity

Jane _Eyre_meets_Blind_Mr_Rochester

Pada film ini saya menemukan beberapa ketidakcocokan dengan yang  saya baca di novel. Kemudian saya menyadari bahwa novel yang saya miliki adalah versi singkat yang ditujukan untuk pembaca sastra klasik tingkat pemula. 

Saya pun browsing untuk mencari novel Jane Eyre dalam bentuk e-book. Karena bisa dipastikan merupakan versi original dengan isi cerita lebih detil daripada novel yang sudah saya miliki.

Dari hasil browsing saya berhasil mendapatkan novel Jane Eyre yang berbentuk e-book. Dan beberapa informasi antara lain selain versi film layar lebar yang terbaru tahun 2011 dibintangi Mia Wasikowska sebagai Jane Eyre, juga ada versi miniseri produksi BBC terbaru tahun 2006 dibintangi Ruth Wilson sebagai Jane dan Toby Stephens sebagai Mr Rochester.

Tetapi di YouTube saya susah mendapatkan miniseri tahun 2006 karena terkendala hak cipta oleh pihak BBC. Yang bisa saya dapatkan hanya potongan-potongan kecil. Tetapi kemudian saya menemukan miniseri Jane Eyre 1983 yang menurutku sa....ngat luar biasa! Karakter Jane Eyre dan Mr Rochester diperankan sangat baik oleh Zelah Clarke dan Timothy Dalton. Saya memberikan empat jempol untuk mereka :)LOL

Bahkan saya berani berpendapat seperti inilah seharusnya kedua karakter utama ini diperankan. Pada miniseri 1983 saya bisa merasakan karakter Jane Eyre dan Mr Rochester seolah keluar dari novel.

Namun sayangnya saya tidak merasakan greget yang sama pada versi layar lebar 2011 dan miniseri 2006. Mulai dari segi dialog yang kurang puitis tidak seperti di novelnya, hingga bahasa tubuh dan kualitas akting pemerannya yang tidak atau kurang mencerminkan nuansa semasa Charlotte Bronte menulis cerita ini.

Jika dibandingkan dengan sinetron Korea "Jewel In The Palace" bisa sukses besar dengan dialog, setting, dan pemeran yang mengadaptasi masa Dae Jang Geum masih hidup. Kalau tidak seperti itu mustahil para penonton di seluruh dunia yang merupakan generasi muda abad 21 akan mengetahui dan merasakan bahwa di jaman dahulu orang memasak dengan tungku tanah liat, makan rumput liar, dan menggunakan tanaman herbal sebagai obat.

Seperti itulah seharusnya sebuah karya klasik  yang populer seperti Jane Eyre diadaptasi menjadi film layar lebar atau sebuah miniseri. Dari empat versi yang sudah ditonton (2011, 2006,1996,1983), saya sangat menyukai versi miniseri 1983, meski terdapat kendala teknologi artistik pada masa miniseri ini dibuat. But never mind that, just enjoy the stern-dashing Mr Rochester, and little simple Jane Eyre.

Jane_Eyre_1983_DVD
Jane Eyre 1983 yang diperankan Timothy Dalton dan Zelah Clarke
Bahkan saya khusus mengapresiasi Timothy Dalton yang berakting sangat bagus dan excellent sebagai Mr Rochester, dan penampilan Zelah Clarke yang mampu mengimbangi kekuatan akting Timothy Dalton. Mereka terlihat sangat serasi dan kompak. Di hatiku selamanya merekalah My Jane and Mr Rochester. Setidaknya sampai ada generasi muda yang bisa mengimbangi atau lebih baik dari mereka.

Ini membuktikan bahwa yang jadul tidak semua kuno, justru dari yang jadul banyak hal yang bisa dipelajari, dalam hal ini adalah kemampuan akting bagi aktor dan aktris. Karena terbukti beberapa aktor dan aktris menjadi terkenal setelah berperan sebagai Jane Eyre dan Mr Rochester. Contohnya Timothy Dalton mendapat peran sebagai James Bond "The Living Daylight" (1987) dan "The Licence To Kill" (1989)

Sayangnya kebanyakan versi film dan miniseri Jane Eyre lebih banyak mengeksplorasi sisi romantisme dan misteri (karena memang novel ini bercerita tentang kisah percintaan dan misteri masa lalu Mr Rochester yang gelap). Sedangkan bagiku daya tarik novel ini adalah pandangan Charlotte Bronte sebagai wanita modern yang tidak lazim dimiliki para wanita di masa itu yang diproyeksikan melalui karakter Jane Eyre.

Saya mengagumi Charlotte Bronte pada level yang setara dengan Ibu Kartini. Bagiku keduanya memiliki pemikiran dan pendirian yang kuat dan tidak lazim, dan kekuatan iman yang teguh pada Tuhan. Bahkan saya yakin keduanya menentang keras bigami/poligami.

Bagi Charlotte Bronte wanita harus memiliki kemampuan untuk mandiri dan tidak menjadikan pernikahan sebagai cara untuk mempertahankan atau memperbaiki status dan kekayaan (seperti yang umum terjadi di masa itu), melainkan atas dasar cinta dan saling menghargai (mutual respect)

Bahwa moral (dalam hal ini saya menyebutnya hati nurani dan integritas) harus ditempatkan di atas segalanya, dan tidak bisa ditawar demi kekayaan, status, dan cinta. Seperti yang ditampilkan pada karakter Jane Eyre yang rela meninggalkan Mr Rochester (meski cinta tetapi tidak mau berstatus sebagai mistress atau istri kedua, bigami dianggap tidak pantas dalam masyarakat dan di mata hukum pada masa itu) setelah mengetahui istri dari pernikahan sebelumnya masih hidup yang dikurung karena mengalami gangguan jiwa.

Kemudian Jane kembali pada Mr Rochester setelah Mr Rochester mengalami kebutaan, kehilangan kekayaan, dan kematian istri pertamanya dalam peristiwa kebakaran. Di sinilah memperlihatkan karakter Jane yang mulia, mencintai tanpa syarat, tidak memperdulikan status sosialnya meski dirinya pada saat itu adalah wanita kaya dan mandiri.

Kutipan favoritku dalam novel ini adalah ketika Jane Eyre sempat ragu untuk meninggalkan Mr Rochester yang sangat dicintainya, memperlihatkan kekuatan iman dan self respect yang seharusnya dimiliki para wanita pada kondisi apapun.
"I care for myself. The more solitary, the more friendless, the more unsustained I am, the more I will respect myself"
Yang jika kita lihat pada masa kini self respect atau rasa menghargai diri sendiri kurang mendapat tempat dalam masyarakat modern. Salah satu contoh adalah ketika seorang gadis remaja mengenakan pakaian yang tidak sopan atau celana jins yang memperlihatkan belahan pantat, hanya karena sedang trend. Sebagai wanita dan Ibu dengan tiga anak, saya tidak tahan dengan pemandangan seperti itu. 

Contoh lain kurangnya self respect yang marak pada masyarakat modern saat ini antara lain maraknya pernikahan siri, prostitusi, korupsi, dll yang pelaku maupun korbannya adalah kaum wanita.

Meski Charlotte Bronte sendiri tidak bermaksud menjadi pelopor feminis ketika menulis novel ini, tetapi novelnya layak dinikmati bahkan tetap relevan setalah 165 tahun sejak diterbitkan pertama kali. Saya sangat mengagumi pemikiran Sang Penulis yang melampaui jamannya, karena wanita di abad 19 tidaklah seperti yang digambarkan dalam karakter Jane Eyre.

Menurutku karakter Jane Eyre adalah hasil imajinasi Charlotte Bronte tentang karakter ideal yang ingin dimilikinya atau yang menurut pandangannya harus dimiliki setiap wanita yaitu; berintegritas tinggi, self respect, mandiri, berani, sekaligus tetap beriman yang teguh kepada Tuhan

Bahkan saya kagum terhadap pemikirannya tentang memilih pasangan hidup dan pernikahan. Bahwa kita harus memiliki respect terhadap pasangan. Dan pernikahan seharusnya tidak dijadikan sebagai jalan untuk bergantung secara ekonomi terutama bagi wanita. WOW.....! Berapa banyak perempuan di masa itu dan di abad 21 yang jauh lebih modern yang memiliki pandangan seperti itu.

Makanya novel ini sangat layak dibaca. Bahkan saya akan menyarankan anak perempuanku membaca novel ini setelah berumur 18 tahun. Semoga saja pada saat itu dia sudah menguasai bahasa Inggris secara aktif untuk bisa memahami novel ini:)

Efek lain dari Jane Eyre adalah saya terinspirasi untuk belajar bahasa Inggris lagi. Saya menemukan videobook dari CC Prose yang dibaca sangat baik menggunakan aksen British.



Dengan videobook ini saya kembali melatih fonetical, memperbaiki aksen dan menambah kosakata. Untuk kegiatan ini saya ditemani dua gadget yaitu kamus elektronik dan tablet. Saya menggunakan tablet terutama karena lebih ringkas dengan kualitas gambar dan suara setara dengan laptop/notebook.

Gadget_Samsung_Tablet_Besta_Electronic_dictionary
Gadget yang menemaniku belajar bahasa Inggris
Jane Eyre telah membuat hidupku kembali bergairah meski kegiatan beading harus berhenti sementara. Setidaknya ada hal lain yang bermanfaat untuk dilakukan, sambil berusaha menggali ide baru untuk melanjutkan hobiku nantinya.

Sumber:
Wikipedia/Jane_Eyre
Wikipedia/Charlotte_Bronte
Victorian Web
BronteInfo
IMDB
YouTube