Selasa, 06 November 2012

Heboh TKI On Sale

Beberapa waktu lalu kita dihebohkan dengan berita di TV tentang beredarnya selebaran yang bertuliskan "TKI On Sale". Mulai dari pejabat hingga masyarakat awam di Indonesia sepakat bahwa iklan ini sangat menghina dan melukai martabat bangsa Indonesia.

selebaran_iklan_TKI_On_Sale_Malaysia
Iklan TKI On Sale yang menghebohkan
Banyak kesimpang-siuran yang muncul tentang kebenaran atau keabsahan iklan itu, misalnya alamat pada iklan itu diberitakan adalah sebuah kedai gunting rambut, dan oknum yang merupakan contact person bernama Rubini dan nomor telepon yang tercantum ternyata adalah palsu.

Dari sebuah wawancara di TV yang mengundang pejabat dari Kementrian Ketenagakerjaan (Kemenaker) mengungkapkan bahwa kemungkinan besar TKI On Sale itu benar adanya. Karena masih banyak oknum (dari Indonesia) yang tidak bertanggung jawab memfasilitasi warga Indonesia menjadi TKI ilegal.

WOW saya benar-benar tidak habis pikir. Saya turut bersedih dan bersimpati kepada mereka yang berjuang untuk hidup hingga memutuskan bekerja di luar negeri meski sebagai pendatang haram. Karena tidak punya dokumen resmi, mereka bersedia menerima pekerjaan apa saja dengan bayaran berapa saja untuk sekedar bertahan hidup di negeri orang. Kemungkinan dari sinilah asal muasal munculnya iklan TKI On Sale itu.

Saya turut prihatin karena meski hidup di jaman modern dengan teknologi yang serba canggih ternyata praktek perbudakan belum hilang, hanya berganti rupa dalam wujud human trafficking (istilah lain untuk perdagangan manusia). Yap.. benar iklan TKI On Sale itu tidak ada bedanya dengan perbudakan. 

Sejarah peradaban manusia pernah mencatat manusia pernah menjadi komoditas manusia lain. Ketika kekayaan seseorang entah sebagai saudagar atau firaun termasuk berapa banyak budak yang dimiliknya.

Dalam keprihatinan saya merenung, jika ingin bekerja sebagai pembantu rumah tangga kenapa harus repot-repot keluar negeri, datang sebagai TKI ilegal dan menjadi komoditas dagang bagi orang lain dengan diskon 40%???

Sedangkan di dalam negeri kita masih bisa menyerap pembantu rumah tangga. Dalam hal ini saya tahu pasti karena sering mendengar keluhan teman-teman sesama Ibu Rumah Tangga yang kesulitan mendapat pembantu rumah tangga. Kalaupun dapat sering yang masih ingusan alias di bawah umur dan tidak punya pengalaman kerja.

Pemerintah Indonesia terlalu repot membuat memorandum untuk melindungi para tenaga kerja di luar negeri, sedangkan di dalam negeri tidak mampu melindungi warganya (para pekerja di sektor informal; salah satunya adalah pembantu rumah tangga) mendapat upah yang pantas. 

Jika para buruh pabrik bisa serempak bersatu menuntut upah layak Rp 2 juta per bulan, mestinya tidak sulit membuat peraturan yang sama untuk mensejahterakan para asisten rumah tangga sekaligus menyediakan tempat pelatihan yang diwadahi pemerintah daerah dan tidak diserahkan kepada pihak swasta (untuk mencegah praktek human trafficking) dari tingkat desa hingga kabupaten.

Saya sangat yakin para majikan di dalam negeri tidak berkeberatan dengan kisaran gaji Rp 800 ribu (untuk pemula) hingga Rp 2 juta (sudah ahli dan berpengalaman) per bulan, terutama karena calon asisten rumah tangga telah menjalani masa pelatihan dalam jangka waktu tertentu, sehingga dipastikan mereka mempunyai standar keahlian; mengurus rumah tangga, mengasuh bayi/anak, dan merawat orang tua.

Jewel_In _The_Palace_becoming_royal_doctor
Pemerintah Indonesia seharusnya menyediakan tempat pelatihan seperti ini  untuk para asisten rumah tangga

Jewel_In_The_Palace_as_a trainee_to_become_royal_dotor
Idenya dari film Jewels In the Palace
Dan karena direkrut dari tempat pelatihan yang diwadahi oleh pemerintah daerah, maka identitas para calon asisten rumah tangga tercatat dengan rapi dan jelas, untuk mencegah terjadinya berbagai tindak kejahatan seperti penculikan anak atau perampokan yang menyamar sebagai pembantu rumah tangga.

So... menurutku  sudah saatnya pemerintah bertindak mengurus dalam negeri dengan menyediakan lapangan kerja, daripada repot mengirim tenaga kerja keluar negeri. Jika di dalam negeri tersedia lapangan pekerjaan dengan gaji yang memuaskan, maka jumlah pekerja ilegal dengan sendirinya akan berkurang.

Kehebohan iklan TKI On Sale patut menjadi pelajaran. Kita tidak perlu repot membuang energi dengan mengumbar kemarahan di sana sini, apalagi merasa tersinggung dengan keberadaan iklan ini. Sebaiknya masing-masing pihak mengintrospeksi dan sadar bahwa jangan menuntut respek dari pihak lain jika tidak menaruh respek pada diri sendiri terlebih dahulu.

Sumber: