Selasa, 31 Juli 2012

Krisis Di Negeri Tempe

Tempe_makanan_khas_Indonesia
Tempe menjadi langka dan mahal
Sepanjang minggu lalu ramai diberitakan tentang mahalnya harga kedele yang berakibat Tahu dan Tempe di pasaran menjadi mahal dan langka. Padahal sejak lama Tahu dan Tempe telah menjadi makanan utama sebagian besar masyarakat Indonesia karena harganya murah dan bergizi tinggi.

Saya yang bervegetarian ikut menjadi cemas tentang bagaimana kelangsungan hidup kami selanjutnya. Karena sebagai vegetarian Tahu dan Tempe adalah sumber protein utama beserta kacang-kacangan lainnya. Tidak mungkin kami kembali beralih ke daging sapi, ayam, dan ikan. Demi alasan spiritual dan ekonomi sangat tidak sepadan.

Saya akan sulit memahami jika rakyat Indonesia sampai harus "dibujuk" untuk lebih banyak mengkonsumsi ikan sebagai pengganti Tahu dan Tempe. Padahal dari segi harga dan kuantitas Tahu dan Tempe masih jauh lebih murah daripada harga daging.

Sebagai ilustrasi kita bandingkan telur ayam ras seharga Rp 750- Rp 1000 / butir yang cukup untuk satu orang, dengan satu potong tempe mentah seharga Rp 2000 yang bisa dikonsumsi empat orang. Hasilnya akan tetap jauh signifikan jika membandingkannya dengan daging ayam, sapi, atau ikan.

Belum lagi efek kesehatan yang ditimbulkan akibat mengkonsumsi daging. Dan derita para Nelayan yang kesulitan bahan bakar untuk melaut masih juga belum terobati. 

Saya baru sadar setelah rajin mengikuti berita tentang mahalnya harga kedele, bahwa Indonesia sedang berada di tengah krisis pangan, yang akan semakin melebar jika tidak segera tertangani.

Terbukti dengan adanya mogok produksi para perajin Tahu Tempe di berbagai daerah. Bahkan diberitakan para penjual melempar Tahu dan Tempe ke jalan sebagai protes kepada pemerintah untuk segera menstabilkan harga.

Para_perajin_membuang_tahu_tempe_ke_jalan_sebagai_protes_kepada_pemerintah
Para Perajin membuang Tahu Tempe sebagai protes kepada pemerintah
Timbul pertanyaan besar bagaimana bisa negeri penghasil Tempe tidak mampu memproduksi bahan baku (kedele) untuk kebutuhan dalam negeri. Bahkan sempat marah ketika Tempe diklaim dan dipatenkan oleh Jepang. Saya jadi ikut menggeleng-gelengkan kepala bersama rakyat Indonesia lainnya menghadapi situasi ini.

Ibarat tikus mati di lumbung padi, seperti itulah yang terjadi saat ini. Sangat ironis! Padahal Indonesia adalah negara agraris tetapi masih bergantung impor beras dan kedele dari negara lain.

Apa mau dikata semua sudah terjadi. Saya hanya berdoa pada Yang Maha Kuasa supaya segera menemukan jalan keluar. Saat ini upaya pemerintah adalah menghapus bea impor untuk menurunkan harga kedele. Dan upaya jangka panjangnya adalah meningkatkan produksi kedele dengan menyediakan lahan 500.000 hektar.

Apapun cara yang ditempuh semoga krisis di negeri Tempe segera berakhir. Dan bangsa Indonesia bisa dengan bangga menyebut Tempe adalah makanan khas dan asli dari Indonesia.