Sabtu, 16 Juni 2012

Hujan Yang Merepotkan

Sepanjang minggu ini kota Luwuk dalam suasana mendung dan hujan terus-menerus. Yang tentu saja efeknya mulai terasa seperti; banyak orang yang sakit bersamaan, dan tentu saja banjir.

Tidak pernah saya alami banjir sampai masuk ke rumah selama tinggal di Luwuk. Tapi pada hari Senin lalu, sebagian warga termasuk kami disibukkan dengan banjir. Sayang saya tidak berpikir untuk  mengabadikan momen ini karena terlalu sibuk mengurus banjir.

Hujan di awal minggu ini terasa lain dari biasanya. Bagaimanapun bagusnya rumah dan gudang tidak menjamin akan bebas dari masalah banjir. Karena aliran banjir yang deras membuat selokan tidak cukup menampung air, sehingga air pun leluasa masuk dan menggenangi rumah warga.

Bahkan ada yang banjir bukan dari luar, melainkan air yang meluap keluar dari kamar mandi. Maka terjadilah yang disebut banjir dari dalam rumah, air tergenang hingga ke kamar tidur. 

Kedahsyatan banjir pun bisa terlihat di jalan-jalan. Jika biasanya hujan membuat sampah dari selokan terangkat ke jalan, tapi kali ini justru batu dan pasir. Membuat saya berpikir ini longsor dari mana?

Ada kasak-kusuk warga yang berkata ini akibat pembabatan hutan di gunung W, untuk membangun kompleks perkantoran pemerintah dan membuat akses jalan. Rupanya akibat pembangunan ambisius yang sudah berlangsung beberapa tahun lalu baru terasa akibatnya saat ini.

Saya terpikir kondisi terburuk yang mungkin dan semoga tidak bakal terjadi yaitu banjir bandang seperti di Wasior, Papua, atau biasa disebut tsunami daratan. Karena akibat yang ditimbulkan sama dengan tsunami dari lautan.

banjir_bandang_di_Wasior_Papua_barat
Seperti inilah banjir bandang, akibat yang ditimbulkan mirip tsunami dari lautan
Kondisi tidak akan berubah jika tidak segera mengubah tindakan dan prilaku yang serampangan terhadap alam. Dan yang tidak kalah penting mulai membiasakan diri membuang sampah di tempat yang benar. 

Dan saya pun mulai berpikir untuk merancang bangunan yang bebas banjir. Sangat jelas bahwa banjir mengakibatkan kerugian karena beberapa barang yang rusak dan tidak mungkin terjual.

Semoga banjir dan hujan yang merepotkan ini menjadi pelajaran berharga untuk kita semua.

Sumber:
Republika Online