Senin, 10 Oktober 2011

Waiting For Superman

Lagi-lagi Oprah memperkenalkan sebuah film dokumenter yang kontroversi berjudul Waiting For Superman. Film ini menceritakan tentang dunia pendidikan yang memprihatinkan di Amerika Serikat, yang menurut saya kondisinya tidak jauh berbeda dengan di Indonesia.

Film Waiting For Superman
Film Waiting For Superman
Seperti di Indonesia, rupanya Amerika juga mengalami masalah sumber daya manusia, karena tingginya angka drop out. Seperti itulah realita yang ditampilkan dalam film dokumenter "Waiting For Superman".

President Obama Meet The Cast Waiting For Superman
Presiden Obama bertemu para pemeran "Waiting For Superman"
Menurut film itu penyebab tingginya angka drop out pelajar di Amerika, adalah karena para guru yang tidak bekerja maksimal. Bahkan di film itu menyinggung guru sebagai profesi yang aman dari PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) meski dalam kondisi krisis apapun.

Sungguh menarik melihat tamu yang hadir dalam Oprah show; ada Bill Gates, Davis Guggenheim sang Sutradara, Landon Young, Michelle Rhee, dan Mark Zuckerberg pendiri jejaring sosial Facebook.

Mereka membicarakan revolusi dunia pendidikan yang diisi oleh para guru yang berkualitas dan memotivasi siswanya, bahkan rela membimbing kapan pun dibutuhkan. Dalam kesempatan itu Mark Zuckerberg mengumumkan akan mendonasikan $100 juta untuk bea siswa bagi pelajar di kota Newark, New Jersey.

Tapi menurut saya kondisi pendidikan yang ditampilkan dalam film "Waiting For Superman" tidak semata karena guru yang bekerja tidak efektif. Tapi juga harus ditunjang oleh para orang tua yang peduli. Karena sekolah ibarat lahan tempat menumbuhkan bibit generasi muda yang berkualitas.

Sering terjadi para orang tua di Indonesia bersikap lepas tangan, menyerahkan sepenuhnya pendidikan anak-anak mereka kepada institusi yang bernama sekolah. Bahkan ada yang sinis mengatakan sekolah ibarat bisnis yang berlomba-lomba mencari murid. Sedangkan para orangtua tidak punya rekomendasi sekolah mana yang benar-benar berkualitas.

Di Indonesia sekolah yang berkualitas berarti mahal, atau hanya tersedia di kota-kota besar. Jangankan membicarakan pendidikan berkualitas, jika membangun gedung sekolah saja asal jadi. Sedangkan kesejahteraan guru masih jauh dari angan-angan.

Saya pernah mengalami susahnya mencari sekolah yang menerima anakku yang berkebutuhan khusus. Pada saat itu saya berdoa memohon petunjuk Tuhan. Karena beberapa sekolah umum yang saya datangi menolak anakku, bahkan ada yang menyarankan SLB (Sekolah Luar Biasa). Tega banget!!!

Makanya judul film ini sangat eye catching, karena mengingatkan masa-masa sulit. Saat itu saya seolah menunggu Superman untuk  membangun sekolah dan menyediakan fasilitas yang memadai bagi anak-anak berkebutuhan khusus, yang jumlahnya tidak sedikit di Indonesia, bahkan di seluruh dunia.

Bukan berarti masalah pendidikan anakku saat ini sudah beres. Sebenarnya perjalanan kami masih jauh. Sekarang anakku bersekolah di sekolah khusus, yang setiap kelas berisi satu guru dengan satu atau dua murid.

Saya selalu berdoa demi pendidikan berkualitas bagi setiap anak di Indonesia, tanpa peduli normal atau berkebutuhan khusus. Bahwa pemerintah Indonesia benar-benar peduli dengan generasi muda.

Bagaimanapun juga bangsa yang hebat apabila terus menerus menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas. Sumber daya manusia yang berkualitas dihasilkan dari keluarga, dan juga sekolah.