Rabu, 27 Juli 2011

Krisis Tenaga Kerja Handal 8

Saya ingat ada semacam agensi tenaga kerja di beberapa kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Makassar, yang berbentuk yayasan penyalur tenaga kerja. Kebanyakan tenaga yang disalurkan untuk bekerja sebagai pengasuh bayi dan anak-anak.

Saya sendiri pernah menggunakan jasa dari yayasan ini. Ada yayasan yang bagus, juga ada yang asal-asalan. Tapi biar bagaimana pun orang-orang ini telah berjasa membantu membesarkan anak-anak saya.

Tapi ada sebagian dari mereka telah menimbulkan pengalaman traumatis, sehingga ketika anak ketigaku lahir saya memutuskan tidak ingin atau menunda untuk menggunakan jasa mereka lagi.
Keberadaan yayasan penyalur tenaga kerja yang sangat marak dilakukan oleh pihak swasta, apalagi dengan embel-embel yayasan membuat saya sangat ragu dengan kualitas mereka. Karena sebenarnya ini adalah bisnis yang berbentuk yayasan, entah bagaimana bisa diloloskan oleh pemerintah dalam bentuk izin nomor sekian dan sekian.

Mungkin (ini pemikiran saya sendiri) bisa berbentuk yayasan karena mereka memberi pelatihan kerja. Tapi ketika iseng-iseng saya tanyakan siapa dan berapa staf pengajarnya (di sebuah yayasan di Surabaya), tidak lain adalah pemilik sekaligus pengajarnya. Lagi-lagi soal kualitas jelas MERAGUKAN (bayangkan ketika bang Haji Rhoma Irama berkata KETERLALUAN). Tidak ada jaminan bahwa kualitas setara dengan jumlah uang dikeluarkan.

Ketika babysitter ini sudah tiba di tempatku, saya tanyakan seperti apa ngajarnya, apa ada semacam kelas untuk belajar teori atau langsung praktek? Katanya nggak ada kelas, diajar oleh Ibu (pemilik yayasan) cuma seperti sedang ngobrol santai di ruang duduknya.

Ketika saya tanyakan bagaimana ceritanya bisa sampai ke tempat (yayasan ABC), katanya setelah tamat SMA dia ingin cepat-cepat dapat pekerjaan, dan pekerjaan yang diincarnya adalah mengasuh bayi atau balita, dan tidak keberatan dikirim hingga ke pelosok mana pun di Indonesia (karena gajinya dua kali lebih tinggi, dibanding kalau bekerja di pulau Jawa atau lokal). Lalu dia mendapat alamat yayasan itu dari mulut ke mulut (rupanya secara acak, karena tidak tersedia di Yellow Pages)

Saya menemukan beberapa kesamaan cerita dari beberapa pengasuh anak yang pernah bekerja pada saya. Yayasan penyalur tenaga kerja ini cuma berorientasi bisnis. Bayangkan kalau yayasan itu menerima dua bulan gaji di depan sebesar Rp 1.600.000 per orang (gaji bulanan Rp 800.000) di tahun 2008, dan sekarang di tahun 2011 gaji per bulan mencapai Rp 1.800.000-Rp 2.000.000 / bulan, berarti yayasan ini menerima Rp 3.600.000-Rp 4.000.000 untuk setiap orang yang dikirim dengan menggunakan jasanya (padahal cuma makan-tidur saja selama tinggal di tempatnya).

Nggak heran banyak PJTKI ilegal, dan banyak yayasan penyalur babysitter seperti ini di Surabaya, Jakarta, dan Makassar (nggak tahu di kota lain). Ini bisnis besar dan kerja enak untuk pemilik (yayasan atau PJTKI). Mereka tidak peduli nasib orang yang disalurkan akan seperti apa di tempat tujuan. Mana sempat terpikirkan kualitas pekerjaan anak didik mereka? Yang terpikirkan hanyalah mencari lebih banyak orang (perempuan muda yang berminat bekerja sebagai pengasuh bayi/balita), dan mereka mendapat lebih banyak uang untuk setiap orang yang mereka kirim.

Secara kasar sebuah yayasan penyalur tenaga kerja atau PJTKI legal/ilegal mendapat uang dengan mengeksploitasi orang lain. Coba bandingkan dengan pekerjaan sebagai mucikari di lokalisasi prostitusi di Gang Dolly. Sekilas berbeda jauh tapi punya kesamaan sebagai bentuk lain human trafficking (perdagangan manusia).

Saya merasa kasihan pada para perempuan ini, meski mereka tidak merasa telah tereksploitasi. Mereka bisa berada di tempat itu (yayasan atau PJTKI) karena menginginkan akses untuk mendapat pekerjaan dengan gaji lebih tinggi (di dalam maupun di luar negeri) untuk pekerjaan yang sama di daerah asal mereka.

Jadi telah terjadi semacam simbiosis (hubungan saling menguntungkan) antara mereka. Satu pihak butuh tempat untuk bernaung dan di pihak lain butuh obyek/manusia untuk mendapatkan uang. Yang diperlukan hanyalah nasib baik, supaya bisnis seperti ini bisa terus langgeng.

Dan butuh banyak nasib baik untuk setiap perempuan yang rela bekerja jauh dari kampung halaman, demi gaji yang lebih tinggi. Mereka tentu berharap bisa ditempatkan di keluarga baik-baik, dan sebisa mungkin berusaha untuk betah bekerja dengan berbagai situasi di keluarga itu.

Lalu setelah kontrak kerja berakhir, mereka tentu berharap bisa kembali ke kampung halaman dalam keadaan sehat wal'afiat. Tapi kita tidak bisa menutup mata bahwa ada beberapa dari para perempuan ini bernasib kurang baik. Seperti disiksa majikan, tidak diberi kesempatan beristirahat, hak cuti, hingga gaji tak dibayar. Banyak media lokal pernah memberitakan hal ini.

Saya hanya bisa merenung dan menyadari betapa kacaunya situasi ketenaga kerjaan di Indonesia. Selama ini saya kira cuma temukan fenomena yang aneh bin ajaib di Luwuk, nggak taunya di luar sana lebih  dahsyat lagi.

Sekarang saya merasa tidak lagi bergantung pada orang-orang seperti ini, yang secara kualitas saja jauh dari meyakinkan. Meski harus saya akui orang yang baik-baik juga banyak, tapi lebih sulit lagi untuk membedakan dengan yang abal-abal. So saya harus mengandalkan diri sendiri, dan menggunakan segala sumber daya yang ada dengan maksimal. This is not the end of the world, Life is an adventure, The show must go on.