Kamis, 21 Juli 2011

Krisis Tenaga Kerja Handal 5

Tidak ada pekerjaan apapun di dunia ini yang lebih rendah jika dikerjakan dengan sepenuh hati dan efisien. Kecuali jika pekerjaan itu seperti pegemis di lampu merah, preman jalanan, male/female prostitute, atau apapun yang tidak sesuai dengan norma hukum dan agama.

Misalnya saya pernah melihat tukang sapu jalanan yang bekerja dari pagi buta secara berkelompok . Saya melihat seorang bapak tua di antara enam anak muda  Saya baru tahu bapak tua itu adalah mandor bagi keenam anak muda lainnya, ketika seseorang datang memberi pujian karena bisa selesai tepat waktu dengan hasil yang maksimal.

Masyarakat tidak akan memandang remeh pada pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga, jika dikerjakan sepenuh hati dan efisien. Saya sendiri sangat menghargai pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga, bahkan saya menyebut mereka sebagai asisten (Ibu Rumah Tangga). Oprah Winfrey menyebut mereka sebagai wife (istri).

Bahkan pekerjaan membersihkan toilet sekali pun, jika dikerjakan sepenuh hati, akan membuat orang senang dan nyaman sewaktu menggunakannya. Itulah yang saya alami ketika menggunakan toilet umum di bandara Changi di Singapore.

Orang yang bekerja adalah seorang ibu tua peranakan Tionghoa berumur sekitar lima puluhan tahun. Sepintas lalu tidak ada yang istimewa pada beliau. Tapi dilihat dari caranya mengepel lantai dan mengelap, saya tahu pekerjaannya tidak dilakukan asal-asalan.

Coba bandingkan dengan toilet umum di bandara Singapore dan bandara Jakarta yang sangat berbeda kualitasnya, padahal sama-sama berstatus bandara Internasional. 

Seorang teman bercerita dia bekerja part time di bagian housekeeping di sebuah perusahaan real estat ketika kuliah di luar negeri. Perusahaan itu mengelola properti seperti apartemen dan rumah peristirahatan untuk disewakan. Sebelum penyewa datang, properti itu harus dibersihkan dulu. Nah di situlah peranan teman tadi.

Teman saya dipercaya untuk memegang kunci karena hasil kerjanya yang efisien dan tepat waktu. Kata teman saya hasil bekerja sebagai housekeeping bisa membuatnya menabung, kemudian digunakannya untuk keliling Eropa dan mengunjungi tanah suci (teman saya Kristen).

Kata Pak Mario Teguh jika sebuah pekerjaan dilakukan dengan sepenuh hati, akan memancarkan energi positif di tempatnya bekerja. Dan pada akhirnya akan mempengaruhi orang lain, sebuah kota, dan sebuah negara pada umumnya.

Dunia tidak mengenal Singapore dan Jepang sebagai negara dengan toilet terbersih kan? Melainkan sebagai negara maju di kawasan Asia. Tentunya hal ini tidak lepas dari memiliki fasilitas umum yang nyaman, di mana setiap orang yang bekerja di dalamnya bekerja sepenuh hati pada pekerjaannya masing-masing.

Coba bayangkan jika tersedia fasilitas umum seperti toilet yang bersih dan nyaman di setiap pom bensin, setiap rumah makan, atau bandara di kota Luwuk saja, akan seperti apakah wajah kota Luwuk nantinya. Dan seperti apakah wajah negara Indonesia secara keseluruhan? Pasti lebih maju dan warganya sejahtera.

Karena pekerjaan saya adalah Ibu Rumah Tangga, saya selalu berusaha memberi nilai tambah pada pekerjaan. Karena sudah tugasku untuk memelihara rumah, memasak, mengurus suami dan anak, mendidik anak-anak, dan memastikan kesehatan mereka baik.

Karena jika saya lalai mendidik anakku, misalnya tidak membiasakan anakku membuang sampah pada tempatnya, akan berakibat kebiasaan itu akan ditiru teman-temannya di sekolah. Jika saya tidak memasak dan membersihkan rumah dengan baik pastilah kualitas hidup kami sekeluarga akan buruk.

Untuk itu setiap kali kita mengerjakan sesuatu, lakukanlah dengan sadar dan sepenuh hati, serta yakin dan percayalah hasilnya akan mempengaruhi orang lain. Semoga saja yang positif. Energi positif itu nantinya akan kembali pada diri dan mempengaruhi hidup kita.