Minggu, 31 Juli 2011

Krisis Tenaga Kerja Handal 10

Pada akhirnya saya sendiri yang memutuskan, hanya ingin dikelilingi orang-orang yang kompeten, mau bekerja keras, rajin, dan jujur. Saya tidak lagi sembarangan menerima setiap orang yang datang melamar bekerja di tempatku, hanya lantaran saya kewalahan dengan rutinitas harian.

Saya sangat mensyukuri kondisi ini. Karena meski kelelahan, tapi saya bersyukur  masih bisa tidur nyenyak setiap hari, dan bangun cepat di pagi hari sebelum yang lainnya, untuk bekerja di depan komputer.

Saya bersyukur karena bisa mempraktekkan dengan sungguh-sungguh ilmu manajemen waktu, sehingga saya sadar pentingnya membuat prioritas. Tidak ada lagi waktu yang terbuang percuma. Waktu bersama anak-anak dan suami terasa lebih bernilai. Toh saya juga masih sempat berolahraga dan melakukan hobi.

Yang pasti setiap orang; suami, anak-anak, dan diriku terpenuhi kebutuhannya. Saya belajar untuk tidak mengkhawatirkan hal sepele. Tidak ada kan orang yang mati karena cuci piring, menyikat sendiri kamar mandi, mencuci dan menyetrika pakaian, mengepel dan menyapu rumah, dan juga mengurus bayi, dll. Ya pastilah mati karena stress kalau semua dikerjakan sekaligus dalam sehari. Intinya adalah membuat prioritas.

Kesejahteraan kami sekeluarga tidak ditentukan dengan mesti ada atau tidak seorang asisten yang bekerja dan tinggal di rumahku. Atau harus ada pengasuh yang bayarannya mahal untuk mengurus bayiku. Sekarang saya mementingkan kualitas bukan lagi gengsi, atau apa kata orang kalau "... " . Tapi yang penting adalah kerjasama antara saya dan suami yang membuat kami bisa melewati hari demi hari.

Saya semakin menikmati semua kondisi ini. Jadi ketika saya mendengar ada yang mengeluh kalau asistennya pulang kampung karena hari raya, saya hanya ingin berkata; "cobalah lihat sekeliling, toh dunia tidak juga berakhir, dan hidup terus berjalan".

Kalau hari ini saya tidak punya asisten dan pengasuh bayi yang tinggal di rumahku, bukan karena tidak mampu bayar. Melainkan karena saya sendiri bisa melakukannya tanpa mereka.

Saya sampai pada kesimpulan bahwa tidak ada orang lain yang lebih baik dan lebih tahu dari saya cara mengurus rumah dan merawat bayiku. Bagaimana bisa saya beri tanggung jawab pada orang yang pegang sapu dan melap perabotan saja tidak becus.Atau mempercayakan pada orang yang tidak berpendidikan untuk memasak. Sedangkan apa itu gizi seimbang saja tidak paham. Kalau semua Ibu atau perempuan di Indonesia paham tentang hal ini , maka tidak perlu ada kasus gizi buruk di Indonesia.

Jarang sekali terjadi orang yang betah bekerja di suatu tempat karena menyukai pekerjaannya, apalagi terikat hubungan emosional dengan tempatnya bekerja. Hal ini terjadi dimanapun di seluruh dunia. Bukan rahasia jika orang bekerja karena membutuhkan uangnya. Setelah uangnya terkumpul, maka pekerjaannya ditinggalkan begitu saja. Jadi gaji tinggi bukan jaminan orang akan betah bekerja di suatu tempat.

Hal ini pun sering saya alami beberapa kali. Pernah ada seorang Ibu yang bekerja selama 2 bulan demi punya uang untuk merayakan Natal dan Tahun Baru secara layak di kampung. Bagaimana setelahnya tidak jadi soal baginya.

Jadi daripada terus berharap apalagi menuntut orang lain harus bisa mengurus rumahku dan memasak sebaik saya, masih lebih baik jika kami belajar mengandalkan diri sendiri. Makanya saya tidak ragu berkata pada diriku; "STOP mengandalkan orang lain, tidak ada orang yang bisa sebaik saya mengurus rumahku."

Makanya saya juga memutuskan ini adalah posting terakhirku tentang Krisis Tenaga Kerja Handal. Terimakasih sudah bersedia berbagi pengalaman bersama saya selama ini. Semoga kita semua mampu melihat dengan jeli dan mensyukuri setiap kondisi.